Thursday, 21 April 2022

Aneka Makanan Lezat di Film Little Forest

Sebagai pecinta makanan, usai menonton film Little Forest versi Korea yang dibintangi oleh Kim Taeri ini, saya jadi terinspirasi. Bahkan, saya jadi punya ide menulis novel tentang kuliner. Bedanya, kalau film ini  menceritakan tentang kuliner Korea, novel saya akan menceritakan tentang kuliner Indonesia. 

little forest

 

Yup, Little Forest adalah film tentang kuliner. Film ini sendiri adalah film adaptasi dari film Jepang. Saya sudah mencoba menonton versi Jepangnya juga, tapi saya kurang sreg dengan akting pemainnya. Terkesan membosankan dan datar. Entah mengapa menurut saya akting sebagian besar pemain film Jepang itu cenderung datar. Lain halnya dengan akting Kim Taeri yang memang patut diacungi jempol ini.

Jadi, Little Forest yang ceritanya diangkat dari manga Jepang ini, mengisahkan tentang Hye Won, seorang gadis yang kesulitan mencari pekerjaan bagus di kota. Akhirnya, dia pun kembali ke desa, ke rumahnya yang kosong. Sudah tak ada siapa-siapa lagi di rumah itu. Ibunya sudah meninggal dunia. 

Awalnya, di rumah itu, Hye Won sempat bingung juga mau apa ya. Untung saja dia masih ingat dengan resep-resep masakan ibunya. Pelan-pelan dia coba lagi memasak sesuai ajaran ibunya dulu. Dia menghidupkan kembali rumahnya. Dia pun menanami kebun ibunya dengan tanaman-tanaman yang bisa dimakan.

Kehidupan Hye-Won dikisahkan dalam empat musim. Kita pun akan melihat aneka makanan ala Korea sesuai musimnya. Kita diajak menyaksikan cara menanam beberapa bahan masakan dan cara memasaknya. Hye-Won juga bertemu kembali dengan kedua sahabatnya yang perlahan kembali membuat hidupnya bergairah.  

Pemandangan alam desa tempat tinggal Hye-Won sangat memanjakan mata. Kita juga bisa ikut mempelajari resep masakan ala Korea yang dimasak oleh Hye-Won. Ketika baru datang ke rumahnya, Hye-Won mengambil bahan masakan dari kebun ibunya yang sudah tertutup salju. Sepertinya sayur sawi putih yang dimasaknya bersama dengan sisa beras yang hanya sedikit. 

sayur sawi

Keesokan paginya, sayur sawinya dimasak lagi dengan cara berbeda. Cukup dengan sayur sawi, Hye-Won sudah kenyang makan malam dan sarapan. Sehingga dia pun harus mencari bahan makanan lain. Dia juga melakukan pekerjaan laki-laki seperti memotong kayu untuk bahan bakar. Duh, bisa nggak ya kita kalau ada di posisinya? 

Di antara sekian banyak makanan yang dibuat oleh Hye-Won, saya paling suka melihat kue berasnya. Di mana ya bisa membeli kue beras seperti itu? Apalagi tokoh-tokohnya itu makan dengan ekspresi menggiurkan. Sepertinya makanan-makanan itu sangat enak. Kalau saya hanya bisa membuat kue bolu sederhana

kue beras

Tadinya Hye-Won tidak mau tinggal lama di desa. Dia hendak mencari pekerjaan lagi di Seoul. Ternyata setelah menjalani kehidupan menyenangkan di desa bersama kedua sahabatnya, dia memutuskan untuk tetap di desa. Dia tidak akan kelaparan lagi di desa, karena bahan makanan bisa ditanam dan dimasak sendiri. Makanan-makanan itu adalah menu masakan sehat yang berbeda dengan  yang dimakannya di kota. Kalau di kota, dia hanya makan makanan cepat saji yang sayurnya sudah tidak segar. 

Film ini aman ditonton untuk keluarga. Walaupun konfliknya sederhana, filmnya sangat seru diikuti. Akting pemainnya sangat natural, pemandangan alamnya sangat indah, dan makanan-makanannya kelihatannya enak.  Melalui film ini, saya jadi suka dengan akting Kim Taeri.

Film ini memberikan pesan bahwa tidak semua kenikmatan bisa didapatkan di kota. Sebaliknya, kita justru bisa mendapatkan banyak kenikmatan di desa asalkan bisa memanfaatkan kekayaan alamnya dengan sebaik mungkin.

 


No comments:

Post a Comment

Terima kasih atas komentarnya. Mohon maaf, komentar SPAM dan mengandung link hidup, akan segera dihapus ^_^