Masalah
kesehatan masih menjadi masalah yang serius di Indonesia. Salah satu penyakit
yang tergolong berbahaya dan tersebar dengan cepat adalah penyakit Tuberkulosis
atau biasa disebut TB. Penyakit ini disebabkan oleh kuman Mycobacterium
Tuberculosis, serta banyak menyerang daerah-daerah dengan kepadatan penduduk
yang tinggi dan tingkat sanitasi rendah. Gejalanya, diantaranya: batuk kronis,
batuk berdahak, batuk berdarah yang lebih dari dua minggu, berat badan turun
drastis, tidak nafsu makan, sesak napas, dan bila tidak diobati maka akan
menyebabkan kematian. Penyakit ini menduduki peringkat kelima sebagai penyakit
pembunuh terbesar di Indonesia, dan bahkan menjadi pembunuh nomor dua di daerah
pedesaan.
Kunci
penyembuhannya adalah berobat secara teratur selama enam bulan, serta menjalani
gaya hidup sehat. Obat Anti TB (OAT) terdiri atas beberapa jenis obat
antibiotik, dan sebagaimana lazimnya obat antibiotik, harus diminum secara teratur
sampai habis masa pengobatannya. Untuk pasien TB, obat harus diminum secara
teratur selama 6 bulan, sampai kuman TB tak lagi bisa menginfeksi dan pasien
dinyatakan sembuh sepenuhnya. OAT juga sudah dapat diperoleh secara gratis di
rumah sakit-rumah sakit yang ditunjuk dan 95% puskesmas di Indonesia. Dengan demikian, sesungguhnya Indonesia telah
memiliki kesempatan untuk menjadi negara BEBAS TB. Lalu, mengapa penyakit ini
masih belum bisa ditumpas?
Pengobatan
penyakit TB yang memakan waktu lama, sering kali membuat pasien tidak sabar dan
memutus pengobatan begitu saja. Apalagi jika pasien sudah merasa tubuhnya sehat
dan dapat beraktivitas sebagaimana mestinya. Padahal, penyakitnya BELUM
BENAR-BENAR SEMBUH bila belum menuntaskan pengobatan. Yang lebih parah, kuman
TB menjadi resistan terhadap obat sehingga pasien berpotensi menjadi pasien DR
TB (Drugs Resistant Tuberculosis). Dengan kata lain, kuman TB menjadi kebal
terhadap obat-obatan, yang mengakibatkan
proses penyembuhan menjadi lebih lama dan obat-obatannya pun lebih mahal.
Ini adalah cara
kerja antibiotik. Obat antibiotik memang harus diminum secara teratur, sampai
habis. Jika tidak, kuman akan kebal terhadap obat itu dan sulit diobati. Kasus pasien TB Resistan Obat yang banyak terjadi
di Indonesia adalah TB MDR (Multi Drugs Resistant). Di tingkat global,
Indonesia menduduki peringkat 8 dari 27 negara dengan beban TB MDR terbanyak,
yaitu 6900, 1,9% kasus baru dan 12% dari kasus pengobatan ulang. TB MDR (Multi
Drugs Resistant Tuberculosis) adalah TB Resistan obat terhadap minimal dua obat
paten yaitu INH dan Rifampisin secara bersama-sama atau disertai resisten
terhadap obat anti TB di lini pertama, yaitu
etambutol, streptomisin, phirazinamid.
Bahayanya, pasien TB resistan obat ini bisa menularkan kuman TB resistan obat kepada orang lain.
Bahaya TB Resistan Obat Menurut Media Online:
Sumber: Pos Kota |
Sumber: Detik Health |
Sumber: Oke Health |
Orang yang
rentan terkena TB Resistan Obat, yaitu:
- Pasien TB yang tidak meminum obat TB secara teratur sesuai perintah petugas kesehatan.
- Sakit TB Berulang dan telah mendapatkan pengobatan sebelumnya.
- Berasal dari daerah dengan risiko TB Resistan Obat tertinggi.
- Melakukan kontak erat dengan pasien TB resistan obat.
Diagnosa pasien
yang terkena TB resistan obat dilakukan dengan menggunakan tes cepat metoda PCR
(Xpert MTB/RIF), pemeriksaan biakan, serta uji kepekaan kuman terhadap obat TB
(Drugs Sensitivity Test).
Bagaimana
Mengobatinya?
Tentu saja
pengobatan TB resisten obat ini lebih susah daripada TB biasa, bergantung pada seberapa
cepat kasus TB resisten obat ini teridentifikasi dan ketersediaan pengobatan yang
efektif. Waktu pengobatannya antara 18-24 bulan, lebih lama daripada sakit TB
biasa. Harga obat juga lebih mahal, mencapai 100 kali lipat dari harga obat TB
biasa. Belum lagi efek sampingnya lebih berat. Wuiiih… luar biasa ya
pengorbanan yang harus diberikan bila pasien TB tidak konsisten berobat dan
kuman TB menjadi kebal.
Oleh karena
itu, MENCEGAH lebih baik daripada MENGOBATI. Kunci pencegahannya:
- Diagnosis dini setiap terduga TB resistan obat.
- Pengobatan dengan OAT lini kedua sesuai standar, yang terus dipantau kepatuhan dan ketuntasannya, serta dilaporkan ke dalam sistem surveilans.
- Pencegahan dan pengendalian infeksi yang tepat harus dilakukan di setiap fasyankes yang memberikan pelayanan kesehatan kepada setiap pasien TB dan TB resistan obat.
- Menjaga lingkungan tempat tinggal pasien TB resistan obat.
Waspadalah
terhadap TB resistan obat ini agar penyakit TB tidak semakin meluas dan berkembang
menjadi TB resistan obat sehingga semakin sulit pengobatannya.
Sumber Penulisan:
www.tbindonesia.or.id
www.stoptbindonesia.org
www.depkes.go.id
www.tbindonesia.or.id
www.stoptbindonesia.org
www.depkes.go.id
jadi ada obat yang beda untuk penderita yang resistan ya
ReplyDeleteBetul, mak, obatnya beda...
Delete