Saturday, 18 December 2021

Mendidik Anak agar Menjauhi Zina

Naudzubillahimindzalik.... 

Sepertinya benar sebentar lagi kiamat ya. Di media sosial belakangan ini saya sering membaca pengalaman berzina orang-orang. Begitu mudahnya berzina sampai hamil dan aborsi beberapa kali. 


Larangan Zina


Zina adalah salah satu dosa besar di dalam Islam. Konon para feminis bilang, "tubuhku adalah tubuhku. Terserah mau melakukan apa saja. Termasuk hubungan seksual di luar nikah, asal dengan consent." Consent adalah persetujuan. Jadi berzina kalau mau sama mau ya nggak masalah. Urusin diri lu sendiri daripada urusin orang lain. Kira-kira gitulah omongan mereka.

Serius? Kalau benar zina nggak masalah asal consent, lalu mengapa Islam menjadikannya dosa besar? Dari salah satu kasus viral udah jelas, zina membawa kemudaratan. Memang sih untuk si korban yang katanya diperkosa, bisa dikatakan sebagai kekerasan seksual. Tapi untuk si cowok ya sebutannya tetap saja zina karena di luar nikah. Lihat apa yang terjadi? Si perempuan kena depresi karena tak dinikahi dan akhirnya bunuh diri. Si laki-laki masuk penjara karena pemaksaan aborsi. 

Nggak hanya itu. Ada lagi akibat paling besar dari zina. Kerusakan masyarakat karena rusaknya nasab. Nasab atau pertalian keluarga atau hubungan darah ini bisa kacau bila banyak orang yang berzina, lalu melahirkan anak di luar nikah. Nantinya anak-anak itu bisa jadi menikahi adik atau kakaknya sendiri, saking nggak jelasnya hubungan darah itu. Si ayah kabur, si ibu nggak mau cerita siapa ayah anaknya. Lalu anak-anak mereka jatuh cinta dan menikah tanpa tahu kalau bersaudara. Hiy, ngeriii...! 

Pantas saja kalau di agama Islam disebutkan bahwa maraknya zina menjadi pertanda kiamat sudah dekat. Ya iyalah, karena zina menyebabkan kehancuran masyarakat.  Hukuman berzina nggak tanggung-tanggung. Bagi pezina yang belum menikah, maka akan dicambuk dan diasingkan. Pezina yang sudah menikah, akan dirajam sampai mati. Udah punya pasangan sah, masih aja berzina. Nggak ada syukurnya. 

Zina juga bisa menyebabkan kematian. Kematian anak-anak yang diaborsi, perempuan bunuh diri karena depresi akibat tak dinikahi, dan pembunuhan-pembunuhan lelaki kepada perempuan yang sudah dihamilinya karena nggak siap bertanggungjawab. Udah banyak kasusnya. Googling aja. Jasad perempuan hamil ditemukan di berbagai tempat. Ada yang di laut, di hutan, jalan tol yang sepi, dll. Setelah ditelusuri ternyata eh ternyata itu hamil di luar nikah dan si pembunuh nggak mau bertanggungjawab. Daripada ribet ya habisi saja.

Bagi remaja, zina akan merusak masa depan. Putus sekolah karena hamil di luar nikah sudah banyak dialami anak-anak remaja kita akibat berzina. Sayangnya, orangtua baru menyadari setelah terlambat. 

Heran saya dengan orang-orang yang menganggap zina itu perkara ringan. Setelah berzina, hamil, aborsi, lalu curhat di media sosial. Kemarin saya baca juga curhatan di Quora yang bikin saya gemes setengah mati. Tinggal bersama di kos-an untuk menghemat uang kos, lalu berhubungan seksual di luar nikah, hamil dan aborsi, terulang lagi, hamil lagi. Setelah itu curhat di Quora apakah bayinya harus diaborsi lagi? 

ASTAGHFIRULLAH! 

Kenapa saya yang istighfar ya? Bukan saya yang berbuat. Ya kesal saja, segitu mudahnya berpikir mau membunuh bayi. Bodoh nggak habis-habis atau memang sudah menganggap zina itu hal yang ringan. Maka, kalau ada seorang muslim yang mengatakan zina itu boleh asal consent, saya akan bilang: TERKUTUKLAH KAMU! 

Larangan zina itu bukan hanya ada di agama Islam. Ada yang bilang katanya cuma Islam yang melarang zina dengan consent. Ini saya googling di dalam Kitab Imamat (Leviticus) 20:8 -15 disebutkan bahwa semua bentuk dan jenis perbuatan zina dijatuhi hukuman mati.  


Jangan zina


Sebagai orangtua, ini tugas besar kita bagaimana agar anak-anak bisa terbebas dari zina. Kalau ini cara saya mendidik anak agar menjauhi zina: 

Jangan Berzina 

Orangtua adalah teladan anak-anak. Kalau orangtuanya berzina, anak-anak bisa menirunya. Banyak pasangan suami istri yang berzina yaitu berselingkuh dengan orang lain. Gimana anaknya nggak meniru perilaku orangtuanya? 

Jadi ya kita sebagai orangtua harus setia dengan pasangan masing-masing. Jangan berselingkuh. Zina yang dilakukan pasangan yang sudah menikah itu hukumannya adalah hukuman mati. Kalau nggak dihukum di dunia, maka akan dihukum di akhirat nanti. 

Hindari Bersikap Permisif

Yang nggak habis pikir dari kasus viral di atas adalah bagaimana bisa aborsinya terjadi sampai dua kali? Bahkan orangtua si cowok yang memaksa aborsi. Apakah mereka nggak belajar dari kasus pertama? Kalau sudah aborsi sekali, harusnya orangtua segera melarang anak-anaknya berzina. Itu malah diulangi lagi. Hadeeeh... Kacau.

Jika orangtua terlalu permisif dengan hubungan pacaran yang kebablasan, ya akibatnya anak-anak juga nggak ada takut-takutnya. Ah, ortu gue santai. Yok, zina! Naudzubillah! 

Parenting Al Quran 

Jadikan Al Quran sebagai salah satu sumber parenting. Sudah jelas dalilnya di dalam Al Quran bahwa zina itu haram. Ajarkan kepada anak-anak agar terus tertanam di dalam pikiran mereka untuk tidak berzina. Belajar parenting dari Al Quran lah, itu ada kisah parenting Lukman yang masya Allah luar biasa. 

Jangan belajar parenting dari selebgram yang kehidupan sehari-harinya saja nggak bisa jadi teladan. Contohnya selebgram yang dihujat karena kabur dari karantina covid. Katanya sih dia bagus ngasih teladan soal parenting anak-anaknya? Apa yang bagus dari parenting seorang ibu yang kabur dari karantina dengan menyuap Satgas, meninggalkan anak-anaknya untuk berpesta, dan menginap bersama pasangan di luar nikahnya? Nggak habis thinking! 

Ajari Konsekuensi Zina 

Setiap perbuatan ada akibatnya, termasuk zina. Anak-anak harus diajari soal konsekuensi ini. Sebenarnya sudah ada lho di pelajaran SD, mengajari anak agar bertanggungjawab. Kalau anak mau berzina, kasih tahu apa akibatnya nanti.  

Doakan Anak 

Doa ibu adalah senjata terkuat. Sesibuk apa pun kita, jangan lupa selalu doakan anak agar tetap berada di jalan-Nya. 

Nikahkan Anak

Kalau anak sudah siap menikah, jangan tunda lagi. Segera nikahkan anak. Anak sudah lulus kuliah, bekerja meskipun masih serabutan atau belum tetap, dan sudah punya dambaan hati. Dukung anak agar menikah, jangan halangi. Sebab, dorongan biologis itu manusiawi. 

Jangan sampai melarang menikahkan anak hanya karena kakaknya belum menikah. Jodoh orang punya waktunya masing-masing. Kalau adiknya yang duluan dapat jodoh, ya kenapa enggak? 

Baca Juga: Syarat Menikah 

Gitu aja deh tips yang baru kepikiran di kepala saya seorang ibu dari tiga anak lelaki. Tulisan ini adalah bukti jika kelak saya dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah, apa yang sudah saya perbuat untuk melarang zina? Karena diam adalah seburuk-buruknya iman. 



No comments:

Post a Comment

Terima kasih atas komentarnya. Mohon maaf, komentar SPAM dan mengandung link hidup, akan segera dihapus ^_^